0Shares

Pasuruan,  MARKA –
Polisi tidur atau tanggul jalan dibuat dengan tujuan untuk menghambat laju
Kecepatan kendaraan bermotor (alat pembatas kecepatan). Biasanya banyak akita
jumpai di jalan kampung dan jalan perumahan. Tinggi gundukan polisi tidur
bervariasi, ada yang tinggi, sedang dan ada yang kecil tapi dibuat menjadi 4
ruas sampai 6 ruas. Umumnya adalah keinginan masyarakat setempat untuk
mengurangi angka kecelakaan.

Pembuatan polisi tidur harus seijin dinas terkait dan harus disertai dengan
rambu lalu lintas lainnya. Sebelum melewati polisi dipasang  rambu biru
bertuliskan hati-hati atau kurangi kecepatan. Ketinggian ‘polisi tidur’ yang
diizinkan adalah 30 milimeter. Namun, di lapangan, ‘polisi tidur’ bisa lebih
tinggi dengan jarak yang tidak teratur. Banyak polisi tidur yang dibuat tidak
mengindahkan aturan yang ada dan terkadang malah menimbulkan masalah baru.

Lebih aneh lagi polisi tidur yang ada di Pasuruan. Polisi tidur yang diatur berdasarkan
Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 dan hal yang demikian ini
bahkan dapat membahayakan keamanan dan kesehatan para pengguna jalan tersebut.
Penempatan alat pembatas kecepatan pada jalur lalu lintas dapat
didahului dengan pemberian tanda dan pemasangan rambu Tabel 1 No 6b yaitu
Peringatan tentang jalan tidak datar. Penempatan alat pembatas kecepatan pada
jalur lalu lintas harus dilengkapi marka berupa garis serong dengan cat
berwarna putih atau
kuning,

Polisi tidur  yang ada di jalan raya Surabaya  – Malang KM 41
tepatnya di depan perusahaan Sorini atau Cargil desa Ngerong, kecamatan Gempol
tidak ada rambu-rambu peringatannya dan tampak transparan, sangat membahayakan
pengguna jalan terutama penguna kendaraan bermotor kerap kali di tempat
tersebut sering kali terjadi kecelakaan yang di sebabkan oleh polisi tidur yang
ada di situ, bahkan” pernah ada seorang pak tua umur kira-kira 50 tahun
lebih warga Malang perjalanan dari surabaya melintas di tempat tersebut garpu
sepedanya patah sehingga pengendaranya tersungkur, entah apa fungsi polisi
tidur itu kalau mencelakakan pengguna jalan kenapa dari pihak Dishub Pasuruan
terkesan menutup mata,

Loading...

Haris Nasution warga desa Ngerong mengatakan kepada wartawan saat ditemui di
rumahnya  Jalan raya Surabaya Malang merupakan arus kelas A, bisa
dikategorikan jalur yang kendaraannya melaju cepat kok bisa ada polisi
tidurnya, ” Sering kali saya di lapori warga dusun Ngerong terkait polisi
tidur yang ada di depan perusahaan PT. Cargil yang sering mencelakakan penguna
jalan raya, dan apalagi kalau malam hari waktunya semua orang istirahat tidur
tidak bisa tidur karena suara getaran kendaraan yang melinyas di atas polisi
tidur membikin bising dan dari getaran itu rimah rumah penduduk yang dekat
menjadi retak-retak.” Belum lagi di pinggir jalan tepat di sebelah polisi
tidur itu terlihat beberapa kendaraan alat berat teronton yang sering parkir di
situ, tentu hal ini sangat mengganggu para pengguna jalan yang melintas, Ungkap
Jemik sadiman kades Ngerong. Alat pembatas kecepatan seharusnya mempunyai
manfaat yang jelas dan penempatannya yang sesuai aturan. (gus/gunawan)

0Shares